Rabu, 16 Mei 2012

Sejarah Islam di Bahrein dan Kuwiat

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Asia Barat merupakan kawasan yang strategis, secara psikis kawasan itu sangat berpengaruh besar dalam dunia Islam. Dimana Islam pertama kali tumbuh di kawasan ini dan tersebar luas karena peran kawasan ini pula. Namun sekarang kawasan ini tidak lagi utuh, dan mulai terkotak-kotak bahkan saling bermusuhan antara mereka sendiri.
Di Asia Barat yang dulu dalam satu komando saat ini telah terbagi menjadi beberapa negara nasional di antaranya Saudi Arabia, Syiria, Iraq, Yaman, Oman, Bahrein, Kuwait, UEA, Qatar, Yordania, Lebanon, Cyprus, Palestina, dan Israel. Mereka memiliki sejarah yang panjang dan sebenarnya tidak bisa untuk dipisahkan, namun dalam makalah ini yang akan kita bicarakan hanyalah Bahrein dan Kuwait.
Bahrein merupakan negara kepulauan yang terletak di Teluk Persia dengan ibu kota Manama. Bahrein merupakan negara yang berbentuk monarki yang dikepalai seorang raja dari keluarga Al-Khalifah. Bahrein memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah ditempati manusai sejak zaman pra sejarah. Karena letaknya yang strategis wilayah ini menarik bangsa-bangsa asing untuk menguasainya, seperti bangsa Babilonia, Persia, dan Arab.
Kuwait, salah satu negara arab yang berbentuk emiret dan sekarang Kuwait di perintah oleh keturunan dari Al-Sabah. Kuwait ber ibu kota di Kuwait City, dan merupakan salah satu kota yang paling indah di kawasan Teluk Persia. Saat ini Kuwait telah menjelma menjadi negara kaya, karena ladang minyak yang melimpah. Karena kekayaan minyak yang melimpah pula saat ini Kuwait memiliki hubungan yang strategis dengan Amerika Serikat yang memang memiliki kepentingan di kawasan Teluk Persia.
2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas dalam makaah ini adalah :
a.       Sejarah Bahrein dan Kuwait pra Islam
b.      Awal masuknya Islam di Bahrein dan Kuwait
c.       Pekembangan Islam di Bahrein dan Kuwait sejak zaman klasik hingga modern, dan
d.      Keadaan Islam di Bahrein dan Kuwait dalam ranah kontemporer.
BAB II
PEMBAHASAN
A.       SEJARAH BAHREIN
1.      Bahrein Pra Islam
Bahrein memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah ditempati manusia sejak zaman pra sejarah, karena letaknya yang strategis berada di Teluk Persia dan  karena perananya sebagai Bandar transit barang dagang dari timur sebelum di pasarkan ke dunia Timur Tengah maupun ke Eropa, menjadikan kawasan ini sangat ramai dalam lalu lintas perdagangan. Karena kestrategisan ini, wilayah Bahrein memiliki daya tarik bangsa-bangsa asing untuk menguasainya, seperti bangsa Syiria, Babilonia, Yunani, Persia, dan Arab.
Pada tahun 2300 SM, Bahrain menjadi pusat perdagangan dunia di antara Mesopotamia dan Lembah Indus. Serta mempunyai kaitan erat dengan Peradaban Sumeria pada abad ke-3 SM. Bahrain menjadi bagian dari Babilonia lebih kurang pada tahun 600 SM. Catatan-catatan sejarah menunjukkan Bahrain dikenal melalui berbagai julukan yang di antaranya "Mutiara Teluk Persia".[1]
Bahrain telah menjadi pusat perdagangan dan perhubungan besar diwilayah teluk selama berabad-abad. Suku-suku Arab(iyad dan azad) telah menetap diwilayah itu. Kemudian suku-suku itu dikalahkan oleh suku-suku Arab yang lain(bani Abdul Qasis,Tamim). Suku-suku ini menguasai Bahrain dibawah Persia hingga datangnya Islam.[2]
2.      Awal Masuknya Islam di Bahrein
Islam tersiar ke Bahrein sejak Rosul mengirim utusan ke sana dalam upaya penyiaran Islam, dengan mengirimkan sepucuk surat kepada penguasa setempat yakni Al-Munzir dan Al-Mirbazan yang berisi tentang ajakan untuk masuk Islam. Ajakan ini di respon dengan baik, terbukti dengan penerimaan Islam oleh keduanya serta di ikuti oleh masyarakat setempat baik penduduk Arab Bahrein maupun penduduk non-Arab Bahrein.
Sejak itu Al-Munzir melepaskan diri dari kekuasaan Persia dan menjadi bagian dari daulah Islam di Madinah. Dia memerintah Bahrein sebagai amir hingga wafatnya pada tahun 10 H. Setelah itu Bahrein diperintah oleh Al-Ula, kemudian tidak lama kemudian digantikan oleh Abal bin Sa’id bin As.
3.      Bahrein pada Masa Periode Klasik
Pada masa pemerintahan Abu Bakar Asidiq al-Ula diangkat kembali menjadi wali Bahrain atas permintaan dari penduduknya. Pada periode ini kaum muslimin Bahrain dari keluarga Bani Qais bin Sa’labah, Bani Rabiah Khala al-Jarud bin Basyar al-Abd, murtad dari islam dibawah pimpinan al-Hatam dari Bani Qais. Golongan murtad ini di tumpas oleh al-Ula, sehingga umat islam di Bahrain kembali tenang. Penumpasan golangan orang murtad tersebut tak luput dari bantuan penduduk muslim di Bahrain yang telah benar-benar menerima kebenaran Islam.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab, Usman bin Abi al-As diangkat menjadi wali Bahrain. Pada masa berikutnya Bahrain dipimpin oleh seorang gurbenur.
Pada masa dinasti Umayyah Bahrein menjadi basis gerakan Khawarij An-Najdah, namun keadaan berubah setelah periode pertama dinasti Abbasiyah. Bahrein telah menjadi pusat gerakan Al-Zanj dan gerakan Qoromitah. Bahkan pada masa pemerintahan kholifah Al-Muqtadir kaum Qoromitah berhasil memisahkan diri dari kekholifahan di Baghdat dengan pemimpin besarnya Abu Sa’id Hasan bin Baheram Al-Jabani, kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh puteranya yakni Abu Taher Sulaiman Al-Jabani. Pada masanya kaum Qoromitah berkali-kali mencoba menyerang Basrah, tapi senantiasa digagalkan. Pada tahun 301 H, Abu Taher menyerang Mekkah, tidak dihormatinya lagi kesucian Ka’bah, dan ditimbunya bangkai orang-orang yang dibunuhnya ke dalam telaga zam-zam. Hajar Al-Aswad dilarikanya ke Bahrein selam 22 tahun, kiswah ka’bah dirobrk-robeknya, namun akhirnya kaum Qoromitah dapat dimusnahkan.[3]
4.      Zaman Pertengahan
Pada awal awal abad ke-16 Bahrein berada di bawah komando Turqi Usmani, namun sejak tahun 1521 Portugis datang dan mulai menamkan pengaruhnya di Bahrein. Portugis menjajah Bahrein sejak tahun1521-1602 M, setelah itu bahrein berada di bawah kekuasaan Sultan Persia. Nadir Shah menguasai Bahrain atas alasan politik Bahrein mayoritas Syiah. Pada tahun 1782 Keluarga Al-Khalifah mengambil alih pulau ini dari tangan Persia. Untuk menjaga agar pulau ini tidak jatuh kembali ke tangan Persia, mereka menjalin persahabatan dengan Inggris dan menjadi negeri dibawah naungan Inggris.
5.      Zaman Modern
Sebelum tahun 1861, Bahrein pernah dikuasai oleh Saudi Arabia pada masa Saud bi Faisal. Namun setelah tahun 1861 Bahrein berada di bawah Protektorat Inggris hingga tahun 1971. Pada tahun 1973 Bahrein berhasil membuat konstitusi negara mereka dengan kepala negara dipegang oleh amir dari keturunan keluarga Al-Khalifah.
Sementara minyak pertama kali ditemukan di negeri ini pada tahun 1931, dengan ditemukanya sumber minyak ini Bahrein telah mengalami modernisasi pesat disegala bidang.
Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 juga berdampak bagi Bahrein, tahun 1981 terjadi upaya kudeta dari golongan Syi’ah, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil.
6.      Zaman Kontemporer
Bahrain ialah sebuah negara yang menjalankan sistem monarki konstitusional yang dikepalai oleh raja, Syekh Hamad bin Isa Al Khalifah; kepala pemerintahan saat ini ialah Perdana Menteri Syekh Khalifah bin Salman Al Khalifah yang mengepalai anggota kabinet sebanyak 15 orang. Bahrain mengamalkan sistem dwi-perundangan yaitu Dewan Perwakilan dan Majelis Syura yang dipilih oleh raja. Kedua dewan mempunyai anggota sebanyak 40 orang. Pemilihan umum diadakan pada tahun 2002 dengan anggota parlemen bertugas selama empat tahun satu periode.
Hak politik kaum wanita di Bahrain mendapatkan satu kemajuan saat wanita diberi hak untuk memilih dan bertanding dalam pemilu nasional buat pertama kali pada pemilu tahun 2002. Walaupun tidak ada wanita terpilih dan mendapatkan kursi pada pemilihan yang didominasi oleh Syiah dan Sunni, sebagai kompensasinya enam orang calon wanita dilantik sebagai anggota dari Majelis Syura, sekaligus mewakili komunitas Yahudi dan Kristen yang terdapat disana. Menteri wanita pertama yang dilantik di Bahrain ialah Dr. Nada Haffadh sebagai Menteri Kesehatan. Ia dilantik pada tahun 2004.
Raja baru-baru ini mendirikan Dewan Makamah Agung untuk menata pengadilan-pengadilan di negara ini dan mensahkan pemisahan cabang administratif dan hukum pemerintahan.
Pada 11-12 November 2005, Bahrain menganjurkan Forum Masa Depan yang dihadiri pemimpin-pemimpin dari Timur Tengah dan negara-negara G8 dan membicarakan reformasi politik dan ekonomi di wilayah bersangkutan.
Bahrain hingga hari ini merupakan anggota Liga Arab.
B.       SEJARAH KUWAIT
1.      Kuwait pra Islam
Kuwait merupakan wilayah yang penuh dengan hamparan gurun pasir yang luas yang belum pernah disebutkan dalam sejarah. Dahulu orang-orang arab biasanya berkemah di tempat ini pada musim hujan lebat dan pergi meninggalkannya. Ditempat ini belum dibangun sampai akhirnya keluarga Sabah datang pada abad 12 H/18 M.[4] Kuwait ini terletak di pucuk Teluk Persia.
2.      Masuknya Islam di Kuwait
Islam masuk ke negara Kuwait ini ketika negeri ini masih merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Persia. Awalnya diperkirakan terjadi sekitar tahun 15-30 H, ketika Khalifah Umar bin Khattab membebaskan wilayah-wilayah kekuasaan Persia. Kukuasaan Persia di wilayah itu berakhir pada tahun 30 H, ketika kota Madain (kini di Irak) jatuh ketangan pasukan islam untuk memantapkan kekuasaan islam diwilayah ini, Khalifah Umar mengangkat Sad bin Abi Waqas sebagai amir di Basra sejak itu resmi wilayah itu menjadi bagian dari dunia islam dan penduduknya dengan tulus menjadi pemeluk islam. Kini sebagian umat islam negeri ini termasuk pengikut aliran sunni dari madzhab Maliki dan Hambali, Terdapat sedikit sekali pengikut aliran syi’ah.[5] 
3.      Kuwait pada Periode Klasik
Pada periode ini, sejak Basra dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash yang diangkat oleh Umar wilayah ini merupakan kedaulatan dari islam. Begitu juga ketika tampuk kekuasaan berganti masa dan berganti dinasti, dari masa khalifah Usman bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, dinasti umayah, dan dinasti Abbasiyah. Kuwait merupakan wilayah kekusaannya.
4.      Zaman Pertengahan
Pada masa klasik maupun pertengahan, wilayah yang sekarang menjadi wilayah Kuwait merupakan wilayah yang tergabung dengan Iraq. Dengan demikian sejarah Kuwait sangat berkaitan erat dengan sejarah Iraq.
Pada tahun 1508 M Iraq dan Kuwait berada di bawah kendali kerajaan safawiyah di Persia, namun pada tahun 1533 M Turqi Usmani berhasil merebut Iraq dan mengembagkan pengaruhnya disana, sementara Kuwait berada dalam setatus quo yang memang penduduknya sangat jarang dengan wilayah yang kurang mendukung.
Tetapi kemudian sekitar awal abad 18 M terdapat tiga suku yang datang ke Kuwait dan mulai mengembangkan kehidupan disana. Setelah wilayah itu mereka kuasai, terjadilah kesepakatan antara ke tiga suku pendatang itu untuk membentuk suatu pemerintahan, suku As-Sabah terpilih untuk memegang kekuasaan, sementara suku Kholifah dan Jalahimah bertugas dibidang peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan.[6]
Penguasa di Kuwait yang pertama kali di perintah oleh Sultan Sabah bin Jabir dari suku As-Sabah, dan dinasti tersebut memerintah hingga saat ini.[7] Tidak lama setelah Sultan Sabah bin Jabir bekuasa terdapat ancaman dari kekuasaan Turqi Usmani yang terdapat di Iraq, kemudian dikirimlah seorang utusan untuk menghadap penguasa Turqi Usmani di Basra. Setelah peristiwa itu Kuwait berada dalam pengaruh kesultanan Turqi Usmani, dan untuk menagatur masyarakat dan hubunganya dengan kesultanan Turqi Usmani dipilihlah seorang amir yang dipegang oleh keturunan Sabah yakni Sabah II.
5.      Zaman Modern
Pada akhir abad ke 18, Inggris mulai memperluas pengaruhnya di Teluk Presia dan Suriah, dan berusaha merengangkan hubungan antara Kuwait dengan Turqi Usmani. Karena pengaruh Inggris yang semakin bertambah, pada tahun 1897 Syekh Mubarok As-Sabah mengirim surat kepada Inggris, mengusulkan Kuwait berada di bawah naungan Inggris. Dua tahun  kemudian Inggris menerima tawaran itu, dan semenjak itu Kuwait berada di bawah protektorat Inggris. Ketika perang dunia I Kuwait terlibat dalam peperangan melawan Turqi Usmani, yang kemudian dimenangkan oleh Kuwait beserta sekutu-sukutunya.
Pada tahun 1934 mulai ditemukan sumber minyak di Kuwait, dan mulai pengeboran pada tahun 1936 dengan kerja sama dengan Amerika Serikat. Minyak telah mengubah wajah Kuwait menjadi salah satu negara terkaya di Semenanjung Arab, bahkan pada tahun 1953 Kuwait menjadi negara pengekspor minyak terbesat di Teluk Persia.[8]
6.      Zaman Kontemporer
Pada tanggal 19 Juni 1961, Kuwait memperoleh kemerdekaanya dari Inggris , namun enam hari kemudian Iraq mengklaim bahwa senenarnya Kuwait merupakan bagian dari Iraq.[9] Iraq mengugut untuk menyerang Kuwait tetapi dihalangi oleh pihak Inggris yang menurunkan tenteranya, akibatnya pasukan Iraq ditarik kembali dari Kuwait.
Kejadian seperti ini terulang kembali pada tahun1990, Setelah Kuwait bersekutu dengan Iraq dalam Perang Iran-Iraq kemudian berakhir pada tahun 1988. Kuwait membayar kompensasi ke Iraq     untuk perlindunagan dari apa yang dianggap sebagai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran untuk Kuwait. Namun yang terjadi sebaliknya, pada bulan Agustus 1990 Iraq malah menyerang Kuwait dengan dalih yang sama dan sebagai upaya Iraq untuk menutupi hutang yang membengkak di Kuwait. Tetapi enam bulan kemudian tentara Iraq dipaka keluar dari Kuwait oleh pasukan Amerika Serikat dan 28 negara sekutunya pada 28 Februari 1991 sebagai wujud dari  resolusi DK PBB.[10]
Dan baru-baru ini dikabarkan bahwa di Kuwait sedang berkembag isu-isu tentang Parlemen Kuwait yang pada hari Kamis (12/04/2012), untuk sementara waktu, meloloskan amandemen undang-undang hukum pidana terkait hukuman mati bagi para pengutuk Allah, para nabi Islam dan istri-istrinya.
BAB III
KESIMPULAN
Bahrein dan Kuwait merupakan suatu negara yang terletak di kawasan Teluk Persia, kedua-duanya merupakan negara yang kaya akan ladang minyak, dan juga memiliki pengaruh di pasar global.
Bahrein dan Kuwait sama-sama memiliki sejarah yang panjang sebagai negara dan memiliki andil dalam peradaban terutama peradaban Islam. Bahrein sebagai negara kepulauan yang strategis sejak zaman pra Islam telah dikenal sebagai salah satu pusat peradaban sedangkan Kuwait merupakan salah satu basis wilayah Islam dan dari wilayah itu Islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/bahrain akses pada tanggal 1 Mei jam : 01.00 WIB
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve
Hamka. 1975. Sejarah Umat Islam. Jakarta : Bulan Bintang
Al-Usairy, Ahmad. 2011. Sejarah Islam. Jakarta : Akbar Media
Ali Mufrodi. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta : Logos
http://ms.wikipedia.org/wiki/kuwait akses 1 Mei 2012 jam 01.00 WIB


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/bahrain akses pada tanggal 1 Mei jam : 01.00 WIB
[2] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, ( Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994) hal. 218
[3] Prof. Dr. Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975) hal. 237-238
[4] Ahmad al usairy, Sejarah Islam,( Jakarta : akbar media, 2011) hlm. 396
[5]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994) hlm. 87.
[6] Ensiklopedi Islam
[7] Dr. Ali Mufrodi. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. (Jakarta : Logos, 1997). Hal. 145
[8] http://ms.wikipedia.org/wiki/kuwait akses 1 Mei 2012 jam 01.00 WIB
[9] Dilihat dari kontek sejarah, bukan hanya Kuwait yang masuk wilayah Iraq, bahkan seluruh Timur Tengah hingga Afrika Utara juga masuk wilayah Iraq di masa Abbasiyah. Namun dalam perkembangan sejarah menunjukkanbahwa negeri-negeri itu sudah tidak dapat disatukan lagi di bawah satu tangan penguasa.
[10] Ensiklopedi Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar